4 Tipe PMS

Posted: 21 Februari 2014 in Kesehatan

Wanita dan PMS (Pre-menstruation syndrome). Meski terdengar sering disebut ‘bergandengan’, tapi mereka bukanlah sahabat. Bahkan sedapat mungkin kehadiran PMS yang rutin menjelang menstruasi ini sangat ingin dihindari oleh wanita. Menurut data dari The American College of Obstetricians and Gynecologists, hampir 70% wanita di setiap bulan menderita.

Sampai saat ini para ahli kesehatan menyimpulkan bahwa penyebab munculnya PMS ini adalah karena faktor hormonal, yakni ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron. Biasanya jumlah hormon estrogen dalam tubuh jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah hormon progesteron atau bahkan sebaliknya. Jadi tak heran jika setiap wanita akan mengalami gejala yang acapkali beragam, dari yang ringan hingga yang berat.

Pada gejala yang lebih berat, PMS bisa membuat penderitanya merasa sangat sengsara, seperti; tubuh lemas, kepala pusing, kram perut bahkan terkadang disertai dengan pingsan. Namun seiring dengan datangnya menstruasi, biasanya gejala tidak mengenakkan inipun perlahan akan menghilang dengan sendirinya.

Menurut Dr. Guy E. Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, PMS dibedakan menjadi empat tipe sesuai dengan tingkat keparahan dan kondisi hormonal dalam tubuh, yaitu PMS tipe A, H, C, dan D. Hasil penelitian Dr Guy menunjukkan bahwa 60% gangguan PMS yang dialami wanita di dunia ini masuk dalam golongan PMS tipe A. Sisanya Penderita tipe H sekitar 20%, PMS C 10%, dan PMS D 10%.

Bahkan kadang-kadang seorang wanita mengalami gejala gabungan, misalnya; tipe A dan D secara bersamaan. Nah, dengan mengetahui tipe PMS ini, diharapkan wanita dapat mengantisipasi datangnya berbagai keluhan yang tidak mengenakkan tersebut dengan cara yang disarankan.

Ingin tahu yang mana tipe PMS Anda? Berikut ulasannya:

PMS tipe A (Anxiety)
Ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapat menstruasi. Pemberian hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala ini, tetapi beberapa peneliti mengatakan, pada penderita PMS tipe ini bisa jadi kekurangan vitamin B6 dan magnesium.
Saran: Penderita PMS A sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan berserat, jangan merokok dan batasi asupan kafein yang berasal dari kopi, teh dan cokelat.

PMS tipe C (Craving)
Ditandai dengan gejala edema (pembengkakan) pada perut kembung, nyeri pada buah dada, tangan dan kaki serta terjadi peningkatan pada berat badan. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena asupan garam atau gula yang tinggi pada penderita. Gejala pada tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe PMS lain. Pemberian obat diuretika diketahui dapat meminimalkan retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh akan membantu mengurangi gejala yang ada.
Saran: Untuk mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada makanan serta membatasi jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh.

PMS tipe D (Depression)
Ditandai rasa lapar ingin mengkonsumsi makanan yang manis (biasanya cokelat) dan karbohidrat sederhana (gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Dorongan untuk menyantap makanan manis disebabkan oleh stres, serta tubuh kekurangan asam lemak esensial (omega 6), atau kurangnya magnesium dalam tubuh.
Saran: Perbanyak konsumsi sayur-sayuran hijau, biji-bijian, gandum dan kacang-kacangan, serta makanan yang mengandung asam lemak esensial linoleat (minyak biji tumbuhan, minyak sayur)

PMS tipe H (Hyperhydration)
Ditandai dengan gejala ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3% dari seluruh tipe PMS benar-benar murni tipe D. Kombinasi PMS tipe D dan tipe A dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu stres, kekurangan asam amino tyrosine, atau kekurangan magnesium dan vitamin B (terutama B6).
Saran: Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi gangguan PMS tipe D yang terjadi bersamaan dengan PMS tipe A.

Sumber : menstruasi.com

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s